Kamis, 25 Oktober 2012

Dampak Penggunaan Plastik dan Upaya Mengatasinya


Masyarakat modern saat ini telah menghasilkan limbah dalam jumlah yang sangat besar, dimana 20% volume dari limbah tersebut adalah limbah plastik. Hal ini merupakan salah satu hal yang sangat serius karena plastik todak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Plastik memiliki struktur yang berbeda dengan struktur materi yang ada di alam, dan mikroorganisme tdik mempunyai enzim yang dapat memutuskan ikatan dalam molekul plastik. Karena plastik tidak dapat diurai (didegradasi) secara alamiah, maka plastik dikatakan bersifat "Tidak Terbiodegradasi".
Oleh karena itu limbah plastik menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap pencemaran tanah. Limbah plastik akan menyebabkan menghambat pertumbuhan akar tanaman dalam tanah dan peresapan air dalam tanah sehingga mengurangi jumlah mineral yang masuk ke tanah.Selain itu limbah ini juga dapat mengganggu aliran udara dalam tanah sehingga mengakibatkan berkurangnya jumlah mikroorganisme pengurai, khususnya bakteri anaerobik. Keberadaan limbah plastik tidak terbiodegrasi yang terus bertambah dari waktu ke waktu juga memerlukan lahan pembuangan limbah plastik yang lebih luas, sedangkan lahan semakin berkurang. Untuk mengatasi masalah tersebut ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Membatasi Penggunaan plastik
Sepertiga dari plastik yang diproduksi digunakan sebagai kemasan sekali pakai. Jika kita dapat mengurangi pemakaian plastik ini, maka jumlah limbah plastik akan dapat ditekan.

  •   Mendaur ulang limbah plastik

Sebagian limbah yang tidak terbiodegradasi seperti styrofoam, dapat didaur ulang. Akn tetapi permasalahan mendaur ulang terletak pada kesulitan memilah limbah berdasarkan jenis plastiknya selain itu jga memakan waktu. Produsen plastik telah membuat kode nomer. Namun demikian biayta produksi plastik baru yang murah tetap menghambat upaya daur ulang ini.

 






Kode nomer daur ulang yang digunakan pada produk plastik. Perhatikan kemasan minuman gelas.
  •  Membakar limbah plastik dalam insinerator

Pembakaran plastik di udara dapat membahayakan karena beberapa diantaranya dapat melepas zat beracun, seperti HCL, CO, dan HCN. Untuk itu, pembakaran dilakukan di tempat yang tertutup yang disebut insinerator, tanpa udara pada suhu 700oC. Metode pembakaran ini disebut pirolisis. Pada pirolisis plastik akan terurai kembali menjadi produk awalnya, yakni senyawa karbon seperti alkana, alkena dan benzena. Senyawa karbon ini dapat digunakan kembali di industri, sementara energi yang dilepas dalam pembakaran dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Namun cara ini memiliki kelemahan yakni biaya yang sangat mahal.
  •      Menggunakan plastik yang dapat terdegradasi

Para ahli kimia juga berupaya membuat plastik yang dapat terurai secara alami baik oleh mikroorganisme (terbiodegradasi) dan juga oleh sinar UV (terfotodegradasi). Caranya adalah dengan memasukkan ikatan-ikatan atau gugus atom tertentu dalam polimeryang mudah diputus. Salah satu contoh adalah penambahan tepung jagung ke dalam plastik ECO-FOAM. Dalam pembuatannya, tepung jagung dimasukkan ke dalam mesin dan dicampur dengan air. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan ekstruksi. Polimer ini berbentuk gabus-gabus kecil dan digunakan untuk pengiriman barang. ECO-FOAM larut dalam air sehingga limbahnya dapat terurai dengan mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar