Masyarakat modern saat ini telah menghasilkan limbah dalam jumlah yang
sangat besar, dimana 20% volume dari limbah tersebut adalah limbah plastik. Hal
ini merupakan salah satu hal yang sangat serius karena plastik todak dapat
diuraikan oleh mikroorganisme. Plastik memiliki struktur yang berbeda dengan
struktur materi yang ada di alam, dan mikroorganisme tdik mempunyai enzim yang
dapat memutuskan ikatan dalam molekul plastik. Karena plastik tidak dapat
diurai (didegradasi) secara alamiah, maka plastik dikatakan bersifat
"Tidak Terbiodegradasi".
Oleh karena itu limbah
plastik menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap pencemaran tanah. Limbah
plastik akan menyebabkan menghambat pertumbuhan akar tanaman dalam tanah dan
peresapan air dalam tanah sehingga mengurangi jumlah mineral yang masuk ke
tanah.Selain itu limbah ini juga dapat mengganggu aliran udara dalam tanah
sehingga mengakibatkan berkurangnya jumlah mikroorganisme pengurai, khususnya
bakteri anaerobik. Keberadaan limbah plastik tidak terbiodegrasi yang terus
bertambah dari waktu ke waktu juga memerlukan lahan pembuangan limbah plastik
yang lebih luas, sedangkan lahan semakin berkurang. Untuk mengatasi masalah
tersebut ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu:
- Membatasi Penggunaan plastik
Sepertiga dari plastik yang
diproduksi digunakan sebagai kemasan sekali pakai. Jika kita dapat mengurangi
pemakaian plastik ini, maka jumlah limbah plastik akan dapat ditekan.
- Mendaur ulang limbah plastik
Sebagian limbah yang tidak terbiodegradasi
seperti styrofoam, dapat didaur
ulang. Akn tetapi permasalahan mendaur ulang terletak pada kesulitan memilah
limbah berdasarkan jenis plastiknya selain itu jga memakan waktu. Produsen
plastik telah membuat kode nomer. Namun demikian biayta produksi plastik baru
yang murah tetap menghambat upaya daur ulang ini.
Kode nomer daur ulang
yang digunakan pada produk plastik. Perhatikan kemasan minuman gelas.
- Membakar limbah plastik dalam insinerator
Pembakaran plastik di udara dapat
membahayakan karena beberapa diantaranya dapat melepas zat beracun, seperti
HCL, CO, dan HCN. Untuk itu, pembakaran dilakukan di tempat yang tertutup yang
disebut insinerator, tanpa udara pada
suhu 700oC. Metode pembakaran ini disebut pirolisis. Pada pirolisis plastik akan terurai kembali menjadi
produk awalnya, yakni senyawa karbon seperti alkana, alkena dan benzena. Senyawa
karbon ini dapat digunakan kembali di industri, sementara energi yang dilepas
dalam pembakaran dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Namun cara ini memiliki
kelemahan yakni biaya yang sangat mahal.
- Menggunakan plastik yang dapat terdegradasi
Para ahli kimia juga berupaya
membuat plastik yang dapat terurai secara alami baik oleh mikroorganisme
(terbiodegradasi) dan juga oleh sinar UV (terfotodegradasi). Caranya adalah dengan
memasukkan ikatan-ikatan atau gugus atom tertentu dalam polimeryang mudah
diputus. Salah satu contoh adalah penambahan tepung jagung ke dalam plastik
ECO-FOAM. Dalam pembuatannya, tepung jagung dimasukkan ke dalam mesin dan
dicampur dengan air. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan
ekstruksi. Polimer ini berbentuk gabus-gabus kecil dan digunakan untuk
pengiriman barang. ECO-FOAM larut dalam air sehingga limbahnya dapat terurai
dengan mudah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar